3 Kiat Memupuk Rasa Takut Kepada Allahﷻ

Pernahkah kita tersadar bahwa betapa beraninya kita melakukan hal-hal yang dilarang agama, meninggalkan perintah agama, dan meremehkan ajaran-ajaran agama. Itu semua karena minimnya rasa takut kita kepada Allah.

 

Bahkan kita terkadang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah. Padahal Allah berfirman :

 

فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ … (٤٤)

 

“…Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku…” (QS. Al Ma’idah: 44).

Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah salah satu bentuk ibadah  yang semestinya diperhatikan oleh setiap mukmin.

Berikut ini adalah beberapa kiat agar semakin tinggi rasa takut kita kepada Allah dan bagaimana cara pengagungan seorang hamba kepadaNya:

 

  1. Mengingat betapa lemahnya kita, dan betapa Allah Maha Perkasa.

Ayo Sadarkan diri, betapa kita ini kecil, lemah, hina di hadapan Allah. Allah adalah Al-Aziz (Maha Perkasa), Al-Qawiy (Maha Besar Kekuatannya), Al-Matiin (Maha Perkasa), Al-Khaliq (Maha Pencipta), dan Al Ghaniy (Maha Kaya dan tidak butuh kepada hamba). Sungguh betapa lemahnya kita sehingga ketika kita tertimpa keburukan tidak ada makhluk ataupun dzat yang bisa menghila- ngkan kecuali Allah. Allah berfirman :

 

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١٧)

 

“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia (Allah) sendiri” (QS. Al An’am: 17).

 

Betapa Maha Besarnya Allah, hingga andai kita durhaka kepada Allah, sama sekali tidak berkurang kemuliaan Allah.

 

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا (١٣١)

 

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. An Nisa: 131).

 

Dengan semua kenyataan ini masihkah kita tidak takut kepada Allah      ?

 

  1. Memupuk rasa cinta kepada Allah       .

 

Dua orang yang saling mencintai, bersamaan dengan itu akan timbul rasa takut dan khawatir. Yaitu takut akan sirnanya cinta tersebut. Demikian pula rasa cinta kita sebagai seorang hamba kepada Allah. Hamba yang mencintai Allah dengan tulus, berharap Allah pun mencintainya dan ridha kepadanya. Bersamaan dengan itu ia akan senantiasa berhati-hati tidak melakukan hal yang dapat membuat Allah tidak ridha dan tidak cinta kepadanya.

 

  1. Selalu ingat adzab Allah sangatlah pedih.

 

Jika kedua hal di atas belum menyadarkan anda untuk takut kepada Allah, cukup ingat satu hal, bahwa adzab Allah itu sangatlah pedih yang disiapkan bagi orang-orang yang melanggar aturan agama Allah. Allah Ta’ala berfirman:

 

… الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٦٣)

 

“…Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur: 63).

 

Pedihnya adzab Allah sampai-sampai dikabarkan dalam Al Qur’an bahwa setan berkata :

 

…إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٤٨)

 

“…Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya”(QS. Al Anfal: 48).

 

Dan hendaknya kita takut pada neraka Allah yang tidak bisa terbayangkan kengeriannya. Allah berfirman :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (٦)

 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahrim: 6).

 

Seorang mukmin sudah seharusnya senantiasa memiliki rasa takut kepada Allah. Namun bukan berarti rasa takut ini menyebabkan kita putus asa dari rahmat-Nya, sehingga kita merasa tidak akan diampuni, merasa amal kita sia-sia, merasa pasti akan masuk neraka dan bentuk-bentuk keputus-asaan lain. Ini tidak benar. Keimanan yang sempurna kepada Allah mengharusnya kita memiliki keduanya, rasa takut (khauf) dan rasa harap (raja’). Al Hasan Al Bashri berkata: “Raja’ dan khauf adalah kendaraan seorang mukmin”. Al Ghazali pun berujar: “Raja’ dan khauf adalah dua sayap yang dipakai oleh para muqarrabin untuk menempati kedudukan yang terpuji”.

 

Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa takut kepada-Nya, sehingga dengan itu kita enggan mengabaikan segala perintah-Nya dan enggan melanggar segala larangan-Nya.