MA’HAD TAHFIZHUL QUR’AN AL-FIRQOH AN-NAJIYAH ADAKAN PELATIHAN OUTBOUND DAN WARGAME BELA NEGARA NKRI

IMG_3711Dalam rangka mengantisipasi ancaman terhadap Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, sebanyak 45 santri Ma’had Tahfizhul Qur’an Al-Firqoh An-Najiyah mengikuti Pelatihan Outbound dan Wargame Bela Negara NKRI yang di adakan di pusat pendidikan konservasi alam P-WEC, Petungsewu, Malang pada hari Sabtu, 17 Desember 2016 kemarin.

Dalam pelatihan yang bekerja sama dengan Hunter War Game ini para santri tidak hanya mendapatkan pendidikan dasar wawasan bela negara saja, akan tetapi juga mendapatkan pelatihan semi militer seperti baris berbaris, merayap, hirearky, rescue hingga SOP dalam memegang dan menembak senjata airsoft gun.

Kepala SARPRA Ma’had Tahfizhul Qur’an Al-Firqoh An-Najiyah, ustadz Sandi Imandani, mengungkapkan bahwa pelatihan yang diikuti para santri ini merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran bela agama dan negara terhadap generasi muda yang semakin hedonis dan apatis terhadap agama dan bangsanya.

“Saat ini ISIS, bahaya laten komunis, gerakan seperatis dan syiah mulai mengancam kaum muslimin dan stabilitas negara, maka dari itu melalui pelatihan ini para santri diharapkan menjadi yang terdepan dalam membela agama dan negaranya,” kata ustadz Sandi Imandani di kantornya, Selasa (20/12).

Menurutnya di tengah-tengah ancaman disintegrasi bangsa yang kini di anggap sebagai bahaya laten yang mengancam dan menunggu masyarakat lengah, harus di imbangi dengan menumbuhkan rasa cinta kepada agama dan bangsa. Ia juga sedikit menyayangkan sikap beberapa pihak yang mencurigai dan menuduh bahwa pesantren adalah sarang teroris yang membahayakan NKRI. Padahal sejak dahulu para ulama bersama santri dan rakyat bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan melawan penjajahan Belanda.

“Kita menyayangkan sikap beberapa pihak yang seolah mencurigai dan menuduh bahwa pesantren adalah sarang teroris yang membahayakan NKRI. Padahal sekiranya para penjajah itu datang kembali ke negeri ini, niscaya para santri akan menjadi yang terdepan dalam membela agama dan negara sebagaimana dahulu para santri memperjuangkan kemerdekaan melawan penjajah belanda yang terkenal dengan laskar Hizbullahnya.”, ujarnya.

Melalui pelatihan ini, kita juga berharap para santri akan kembali menjadi salah satu basis kekuatan pertahanan bangsa.