Pemimpin Muslim yang Dzholim atau Pemimpin Kafir yang Adil

PILKADA Jakarta tidak lama lagi akan dilaksanakan. Pilkada kali ini cukup menarik untuk diperhatikan karena salah satu kandidat calon gubernurnya adalah seorang keturunan Tiong Hoa yang beragama nasrani.

Sebenarnya bukan masalah etnis Tiong Hoa yang dipermasalahkan, karena semua manusia adalah sama di mata Allahﷻ.  Dia juga menciptakan manusia berbangsa-bangsa agar saling mengenal satu sama lainnya. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah calon gubernur tersebut beragama nasrani.

Pendukung-pendukung dari calon gubernur tersebut, baik dari kalangan non muslim dan muslim yang tidak paham dengan agamanya, mengeluarkan sebuah syubhat agar masyarakat muslim di nusantara mau memberikan suaranya untuk sang gubernur non muslim. Syubhat tersebut adalah “Lebih baik pemimpin kafir  yang jujur dan adil daripada pemimpin muslim yang korupsi”.

Syubhat di atas terbukti efektif dengan munculnya dukungan dari sebuah partai islam dan juga statement-statement netizen di media sosial yang menunjukkan dukungan kepada calon gubernur non muslim tersebut.

 

Jujur maupun tidak memilih orang kafir sebagai pemimpin adalah haram!

 

1. Kisah Umar bin Khattab memerintahkan untuk memecat penulis anggaran negara yang beragama nasrani

 

Allahﷻ berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (QS. Al Maidah: 51)

 

Ketika menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah berkata, yang artinya : “Allahﷻ melarang hamba-Nya yang beriman untuk loyal kepada orang Yahudi dan Nasrani. Mereka itu musuh Islam dan sekutu-sekutunya. Semoga Allah memerangi mereka. Lalu Allah mengabarkan bahwa mereka itu adalah saling tolong menolong terhadap sesamanya. Kemudian Allahﷻ mengancam dan memperingatkan bagi orang mukmin yang melanggar larangan ini “Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allahﷻ tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim“” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Memilih-Pemimpin-Muslim-ataukah-Non-Muslim-yang-Bersih-dan-AdilKemudian beliau menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab, “Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari agar pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia  berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’ Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’. Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’ Abu Musa menjawab: ‘bukan, karena ia seorang Nasrani’ Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘pecat dia!’. Umar lalu membacakan ayat, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim’” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Dengan demikian jelas sekali bahwa menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin adalah haram hukumnya sekalipun orang tersebut jujur dan baik kinerjanya. Pelarangan tersebut dikarenakan karena orang-orang kafir itu saling tolong menolong satu sama lainnya, sehingga apabila mereka menempati posisi-posisi strategis dan mengetahui rahasia-rahasia kaum muslimin maka mereka akan membocorkannya kepada golongan mereka dan akan melakukan makar untuk bisa melemahkan kaum muslimin dan menguasai mereka. Allah       berfirman

 

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

 

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal : 73)

 

2. Ditinjau dari besar dan kecilnya madharat

Ibnu Mas’ud berkata,

 

لأَنْ أَحْلِفَ بِاللَّهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ وَأنَا صَادِقٌ

 

“Aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan berdusta lebih aku sukai daripada aku jujur lalu bersumpah dengan nama selain Allah.” (HR. Ath-Thobaroni).

 

Syaikh Sholeh Al Fauzan berkomentar mengenai hadits di atas, yang artinya “Di antara faedah dari hadits di atas adalah bolehnya mengambil mudarat yang lebih ringan ketika berhadapan dengan dua kemudaratan.” (Al Mulakhos fii Syarh Kitabit Tauhid, hal. 328).

 

Kaedah dari pernyataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullah,

اِرْتِكَابُ أَخَفِّ المفْسَدَتَيْنِ بِتَرْكِ أَثْقَلِهِمَا

 

“Mengambil mafsadat yang lebih ringan dari dua mafsadat yang ada dan meninggalkan yang lebih berat.” (Fathul Bari, 9: 462)

 

Dalam kitab yang sama, Ibnu Hajar juga menyatakan kaedah,

 

جَوَازُ اِرْتِكَابِ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ

 

“Bolehnya menerjang bahaya yang lebih ringan.” (Fathul Bari, 10: 431)

 

Jika kita membandingkan saat harus memilih antara pemimpin muslim yang bermaksiat dengan pemimpin kafir yang jujur dan adil, maka tetap saja pemimpin muslim lebih utama untuk dijadikan pilihan. Mudaratnya tentu lebih ringan. Apa alasannya?

Alasan pertama, kita tidak boleh mengambil pemimpin dari orang kafir. Alasan kedua, kita akan lebih mudah dalam menjalani agama karena pemimpin semacam itu lebih mengerti akan kebutuhan kaum muslimin. Alasan ketiga, orang kafir tidak mudah menindas kaum muslimin atau menyebarkan ajaran mereka.

Kedzaliman yang dilakukan oleh pemimpin muslim misalnya dengan korupsi, itu adalah kesalahannya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah     atas tindak jeleknya. Namun agama kita pasti akan lebih selamat dan orang muslim pun akan peduli pada sesama saudaranya. Beda halnya dengan orang kafir. Muslim yang bermaksiat masih lebih baik, berbeda dengan non muslim yang diancam akan kekal di neraka.

Jadi bagi yang masih mengatakan pemimpin kafir itu lebih baik, berpikirlah dengan nalar yang baik dan banyak mengkaji ayat-ayat Al Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah menyebut non muslim  dalam ayat berikut ini,

 

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6).

 

Loyalitas seorang muslim haruslah kepada sesama muslim bukan kepada yang berlawanan agama dengannya. Allah        berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51)

 

Dalam ayat lain disebutkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS. Al Mumtahanah: 1)

 

Karena itulah kaum muslimin, semoga Allahﷻ menjaga agama dan negara kita, marilah kita mengajak keluarga, teman dan saudara-saudara semiman kita untuk tidak ikut mendukung bahkan memilih seorang pemimpin kafir. Cobalah kita renungkan sejenak, bagaimana akibatnya jika akhirnya pemimpin kafir yang akan memimpin negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia.

Sumber :

1.            https://muslim.or.id/15094-menjadikan-orang-kafir-sebagai-auliya.html

2.            https://rumaysho.com/7911-memilih-pemimpin-muslim-ataukah-non-muslim-yang-bersih-dan-adil.html