PETUNJUK RASULULLAH DALAM BERKURBAN

Oleh : Ust. Imandani, S.Pd

(Kepala Program Kuliyyatul Mu’allimin Ma’had Tahfzhul Qur’an Al-Firqoh An-Najiyah)

Pada segmen ini kami akan membahas bagaimana petunjuk-petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam berkurban.

# MAKNA KATA UDHIYYAH (HEWAN KURBAN

Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al-Khalafi berkata bahwa yang dimaksud dengan udhiyyah adalah binatang ternak yang disembelih pada hari raya haji dan pada hari-hari tasyriq untuk mendekatkan diri pada Allah. (Al-Wajiz, 777) Berdasarkan hal itulah hari penyembelihan dinamakan dengan ‘Yaumul Adha’.

# HUKUM BERKURBAN

Jumhur ulama dari kalangan sahabat tabi’in dan ahli fikih berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkadah (Subulus Salam 3/571) dan wajib bagi bagi orang yang berlebih/kaya. Sebagaimana hadits Nabi

من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا

Barangsiapa yang memiliki kemampuan sedangkan dia tidak menyembelih, maka janganlah mendekati tempat sholat kami”. (Hasan. HR. Ibnu Majah)

Seseorang yang tidak mau berkurban padahal ia dalam keadaan berlebih/kaya, maka ia telah meninggalkan sebuah kewajiban secara sengaja. Seolah tidak ada faidahnya bagi seseorang yang mengerjakan shalat ‘ied namun ia tidak mau berkurban padahal ia sangat mampu untuk melakukannya.

# HEWAN YANG DIKURBANKAN

Hewan-hewan yang disyariatkan untuk dikurbankan adalah:

1.    Kambing

عن عائشة – رضي الله عنها – : أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أمر بكبش أقرن ، يطأ في سواد ، ويبرك في سواد ، وينظر في سواد ، فأتي به ليضحي به ، قال : يا عائشة ، هلمي المدية ، ثم قال : اشحذيها بحجر ، ففعلت ، ثم أخذها وأخذ الكبش ، فأضجعه ثم ذبحه ، ثم قال : بسم الله اللهم تقبل من محمد ، وآل محمد ، ومن أمة محمد ، ثم ضحى به .

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyuruh dibawakan seekor kaming kibas bertanduk, yang kaki, perut dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah hewan itu kepada beliau kemudian beliau bersabda, “Wahai Aisyah, ambilah pisau!” kemudian beliau bersabda, “Asahlah dengan batu!” Aisyah melaksanakannya. Setelah iru beliau mengambil pisau dan kambing lalu beliau membaringkannya, dan menyembelihnya seraya berdoa, “Bismillah. Ya Allah, terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarganya dan ummatnya. Kemudian beliau menyembelihnya” (HR. Muslim)

Yang dimaksud dengan kata Al-Kabsy dalam hadits di atas adalah kambing yang telah berumur di atas satu tahun dan telah keluar gigi-gigi di samping gigi serinya. (Subulus Salam 3/567) Berdasarkan hadits di atas para ulama menganjurkan agar menyembelih kambing yang bertanduk namun mereka tetap membolehkan berkurban dengan kambing yang tidak bertanduk.

2.    Sapi dan Unta

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : ” نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ ” .

Dari Jabir bin Abdillah ia berkata, “Kami pernah menyembelih bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada tahun Hudaibiyyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bolehnya berkurban dengan system patungan untuk unta dan sapi.

# BOLEHKAH BERKURBAN DENGAN SELAIN KAMBING, SAPI DAN UNTA?

Tidak boleh berkurban dengan selain kambing, sapi dan unta. Allah Ta’ala Berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِين

“ Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Ilahmu ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”. (QS: Al-Hajj:34)

Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab (8/364) Imam Nawawi berkata, “Syarat sah dalam kurban, hewan qurban harus berasal dari hewan ternak (bahimatul an’am) yaitu unta, sapi, dan kambing. Termasuk pula berbagai jenis unta, semua jenis sapid an semua jenis kambing, atau domba, ma’iz dan sejenisnya. Sedangkan selain hewan ternak seperti rusa dan keledai tidaklah sah sebagai hewan kurban, baik dari yang jantan maupun betina tanpa ada perselisihan di kalangan ulama. Tidak ada khilaf sama sekali mengenai hal ini menurut kami.”

# UMUR HEWAN QURBAN

Untuk onta dan sapi  sahabat Jabir meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

لا تذبحوا إلا مسنة إلا أن يعسر عليكم فتذبحوا جذعة من الضأن

“Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaqun ‘alaihi) Adapun untuk kambing telah kita jelaskan pada hadits yang telah lalu. Yang dimaksud Musinnah adalah hewan ternak yang sudah dewasa, dengan rincian:

No.

Hewan

Umur minimal

1.

Onta

5 tahun

2.

Sapi

2 tahun

3.

Kambing

1 tahun

4.

Domba/kambing kibas

6 bulan (domba Jadza’ah)

(Taudhihul Ahkaam, IV/461)

#TATA CARA PEMYEMBELIHAN YANG SYAR’I

1.    Disembelih oleh orang yang sembelihannya halal untuk dimakan

Orang yang sembelihannya halal untuk dimakan adalah sembelihan seiap muslim dan ahli kitab (yahudi dan nasrani), baik laki-laki maupun perempuan. Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.” (QS:Al-Maidah:5)

عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ ، عَنْ أَبِيهِ : ” إِنَّ امْرَأَةً ذَبَحَتْ شَاةً بِحَجَرٍ ، فَسُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ ، فَأَمَرَ بِأَكْلِهَا “

Dari Ka’ab bin Malik, dari ayahnya: “Bahwa ada seorang perempuan menyembelih seekor kambing dengan batu (tajam), lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya tentang (penyembelihan) itu, maka beliau menyuruh memakannya. (Fathul Baariy no.5185)

2.    Disembelih dengan alat apa saja yang dapat mengalirkan darah selain kuku dan gigi.

و عن عباية بن رفاعة عن جده أنه قال : يا رسول الله : ليس لنا مدى ، فقال :  ما أنهر الدم ، وذكر اسم الله فكل ، ليس الظفر والسن ، أما الظفر فمدى الحبشة ، وأما السن فعظم

Dari Abayah bin Rifa’ah dari kakeknya bahwa ia berkata, “Ya Rasulullah kami tidak memiliki pisau untuk menyembelih.” Kemudian beliau bersabda, “Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan nama Allah (ketika menyembelih), maka makanlah, selain kuku dan gigi. Adapun kuku adalah alat sembelih orang-orang kafir Habasyah, sedangkan gigi adalah tulang.” (Muttafaqun Alaihi)

3.    Menyembelih dengan cara yang baik, menajamkan alat penyembelihan, dan mempercepat proses penyembelihan

Dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dua hal yang aku hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ. فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ. وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَ. وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ. فَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ.

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Apabila engkau membunuh, maka hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan jika engkau menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, dan hendaknya seorang menajamkan pisau dan menenangkan hewan sembelihannya itu.” (HR. Muslim)

4.    Menyembelih di tenggorokan dan di pangkal leher untuk hewan yang mudah disembelih dan menyembelih dengan menikam leher untuk hewan yang tidak bisa disembelih seperti unta

عن ابن عباس قال: الذكاة في الخلق و اللبة

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Penyembelihan adalah di tenggorokan dan di pangkal leher.” (Al-Wajiz, 768)

Dari Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Anas, Radhiyallahu ‘Anhum,

إِذَا قَطَعَ الرَّأْسَ فَلاَ بَأْسَ.

“Apabila ia memotong lehernya, maka tidak mengapa.”

5.    Menyebut nama Allah ketika menyembelih

Allah Ta’ala berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُم بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ

“Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut Nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS.Al-An’am:118)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut Nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS.Al-An’am:121)

6.    Menghadap Kiblat

Disunnahkan menghadapkan hewan sembelihan ke arah Kiblat dan membaca seperti apa yang dibaca oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut.

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba yang mempunyai tanduk bagus dan bewarna putih serta telah dikebiri. Ketika beliau menghadapkan keduanya (ke arah Kiblat) beliau berdo’a:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمٰوَاتِ وَاْلأَرْضَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، اَللّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَأُمَّتِهِ بِاسْمِ اللهِ وَالله أَكْبَرُ ثم ذبح .

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi di atas agama Nabi Ibrahim yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk orang-orang menyerahkan diri (kepada Allah). Ya Allah, ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu dari Muhammad dan umatnya, bismillaahi wa Allaahu akbar (dengan Nama Allah (aku menyembelih) dan Allah Mahabesar). Kemudian beliau menyembelihnya.” (HR. Abu Daud)

7.    Merebahkan hewan di atas lambung kirinya

Ketika menjelaskan hadits Aisyah yang telah kami sebutkan pada bahasan “Hewan yang Dikurbankan”, Imam Ash-Shan’ani berkata, “Hadits ini menjelaskan posisi kambing kurban yang direbahkan, sehingga tidak disembelih dalam keadaan berdiri atau duduk. Karena hal itu lebih mudah baginya. Dan ini adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama. Caranya adalah merebahkan hewan di atas lambung kirinya. Hal itu lebih memudahkan orang yang menyembelih dengan memegang pisau dengan tangan kanan dan memegang kepala hewan dengan tangan kiri.” (Subulus Salam 3/569)

8.    Menyembelih sesudah shalat ‘ied

عَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ، ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا، وَمَنْ نَحَرَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ، لَيْسَ مِنَ النُّسْكِ فِي شَيْءٍ

Dari Barra’ bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya hal pertama yang kita mulai pada hari ini adalah kita melaksanakan shalat (Ied), kemudian kita pulang dan menyembelih. Barangsiapa melakukan hal itu niscaya ia telah sesuai dengan sunnah kami. Adapun barangsiapa menyembelih hewan sebelum shalat Idul Adha, maka sembelihannya tersebut adalah daging yang ia berikan untuk keluarganya, bukan termasuk daging hewan kurban (untuk mendekatkan diri kepada Allah).” (Muttafaqun ‘Alaihi)

9.    Menyembelih kurban di tempat shalat ‘ied

Ibnul Qoyyim berkata, “Di antara tuntunan Rasulullah adalah menyembelih kurban di tempat penyelenggaraan shalat. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Abu Daud dari Jabir yang menyaksikan beliau menyembelih hewan kurban di tempat shalat. Selesai menyampaikan khutbahnya Rasulullah langsung turun dari mimbarnya lalu meminta dibawakan seekor kibas kepadanya. Maka beliaupun menyembelihnya dengan tangannya sendiri. Beliau mengucapkan,

بسم الله, و الله أكبر, هذا عني و عمن لم يضح من أمتى

“Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, ini adalah kurban dariku dan dari orang-orang yang belum berkurban dari ummatku.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi) (Zaadul Ma’ad 2/166)

#SIAPAKAH YANG BERHAK MENDAPAT BAGIAN KURBAN?

1.    Orang miskin

وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رضي الله عنه – قَالَ: -  أَمَرَنِي اَلنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ أَقْوَمَ عَلَى بُدْنِهِ, وَأَنْ أُقَسِّمَ لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا عَلَى اَلْمَسَاكِينِ, وَلَا أُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئاً – مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk mengurus unta milik beliau, lalu beliau memerintahkan untuk membagi semua daging kurban, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh di punggung unta untuk melindungi diri dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan aku tidak boleh memberikan bagian apa pun dari hasil kurban kepada tukang jagal (sebagai upah).” )Muttafaqun ‘alaih(

Hadits di atas menunjukkan bahwa kulit dan jilal unta juga disedekahkan sebagaimana dagingnya. Hadits di atas juga mengisyaratkan bahwa penyembelih (jagal) tidak diberi sedikitpun dari sembelihan sebagai upah. Namun jika kita hendak memberi jagal, hendaknya diniatkan sebagai hadiah, bukan upah.

2.    Keluarga

Ibnul Qoyyim berkata, “Di antara tuntunan Rasulullah ialah membagikan daging kurban untuk orang-orang yang membutuhkan dan juga untuk keluarganya sekalipun jumlah mereka banyak. Hal ini seperti yang dikatakan Atha’ bin Yasar, ‘Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshary, “Bagaimana dulu penyembelihan hewan-hewan kurban di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?” ia berkata, “Jika seseorang menyembelih kurban seekor domba darinya dan dari keluarganya, maka mereka (keluarga) makan dan memberi makan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) (Zaadul Ma’ad 2/167)

Allahu a’lam bishshawab.

Maraji’:

Al-Jauziyah, Ibnul Qoyyim. 2009. Zaadul Ma’ad. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.

Al-Khalafi, Abdul Azhim bin Badawi. 2011. Al-Wajiz Fie Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz. Jakarta Timur: Pustaka As-Sunnah.

Ash-Shan’ani, Muhammad bin Ismail. 2011. Subulus Salam Syarh Bulughul Maram. Jakarta Timur: Darus Sunnah Press.